Hay friends, Dengerin lagu yuks
Hehehehe ..
Hay friends, I Santa Mars
Nama asli ane Marsyanta
Welcome to my blog
I am Indonesian people
aye Ingin sekali jadi orang terkenal :D
Hopefully all useful
Thank you .




Navbar Bawah

"Haruskah #IwanOut ?"




"Terkadang, makna dari sebuah kesuksesan adalah seberapa besar kita mampu menikmati apa yang kita kerjakan.. Bukan selamanya dari seberapa besar yang dapat kita hasilkan dari pekerjaan tersebut"..
Tujuh pertandingan telah berlalu. Seperti yang telah sama-sama kita ketahui, hasil yang diraih oleh tim kebanggaan ibukota Persija Jakarta, sangat jauh dari apa yang disebut memuaskan. Empat kekalahan, dua kali hasil seri dan hanya sekali memenangkan pertandingan, jelas bukan sebuah pencapaian yang mampu membuat The Jakmania, pendukung Persija Jakarta bersorak gembira.
Ungkapan keprihatinanpun terdengar dari seluruh penjuru negeri. Di dunia maya maupun dunia nyata, nyaring terdengar suara-suara sumbang yang tidak jarang disertai juga dengan sumpah serapah, dari mereka yang mengaku mencintai klub ini.
Para pemain, pelatih sampai kepada pucuk pimpinan tertinggi klub, dalam hal ini Ketua Umum pun menjadi sasaran kemarahan dari para pendukung Persija Jakarta. Di berbagai jejaring sosial, banyak simpatisan Persija Jakarta yang menyerukan gerakan #IwanOut, sebagai bentuk dari ketidakpuasan mereka terhadap kinerja pelatih kepala Persija Jakarta, Iwan Setiawan. Ini menjadi hal yang menarik, mengingat musim lalu Iwan Setiawan dianggap menjadi salah satu faktor penting, berhasilnya Persija Jakarta bercokol di posisi ke lima klasemen di akhir kompetisi. 
Sebelum kita membahas permasalahan ini lebih jauh lagi. Awal sekali mari kita sepakati bersama, jika kita semua bukanlah golongan orang-orang pembenci. Karena para pembenci, tidak akan pernah mampu memberikan sebuah penilaian yang fair dan netral terhadap sebuah permasalahan.
Kesampingkan dahulu rasa suka, tidak suka atau emosi kita terhadap setiap personil di dalam tim, siapapun itu. Mari kita bersama-sama mencari solusi yang tepat, untuk kebaikan tim yang kita banggakan bersama, Persija Jakarta. Karena kritik tidak seharusnya dianalogikan sebagai bentuk dari sebuah kebencian.
Sebagai pendukung Persija Jakarta, tugas kita adalah memberi dukungan dan juga mengkritisi tim yang kita dukung, yaitu Persija Jakarta. Kritis terhadap hal-hal yang tidak sesuai dan mencoba menawarkan sebuah solusi yang sifatnya rasional, sesuai dengan kondisi dan dinamika yang terjadi di dalam tim itu sendiri.
Permasalahan yang dialami Persija Jakarta itu terjadi saat ini, oleh karena itu dibutuhkan sebuah solusi yang segera dan sebisa mungkin dapat untuk dilakukan saat ini juga. Jangan meratapi apa yang telah terjadi di awal musim. Jangan pula berandai-andai mengenai rencana pada jendela transfer putaran kedua nanti. Karena itu semua tidak akan menyelesaikan permasalahan yang terjadi saat ini.
Bagi saya pribadi, memecat pelatih bukanlah sebuah solusi cerdas dari permasalahan yang menimpa Persija Jakarta. Di belahan dunia manapun, dalam kondisi tim yang sedang terpuruk seperti ini, pergantian pelatih adalah hal yang wajar dilakukan oleh sebuah klub. Akan tetapi dalam kondisi tim yang masih mengalami krisis keuangan seperti saat ini, melengserkan seorang pelatih dan menggantinya dengan yang baru, bukanlah solusi yang rasional. Karena hal tersebut malah akan menambah permasalahan di dalam tim itu sendiri..
Mengapa? Mendatangkan pelatih baru tentu akan membebani keuangan klub, tentu ini perlu dipertimbangan masak-masak. Mengingat jangankan membuat sebuah pos pengeluaran baru, untuk menutup sisa tunggakan gaji punggawa musim lalu pun, belum mampu menejemen selesai semua..
Saya lebih condong untuk mempertahankan Coach Iwan Setiawan sebagai pelatih kepala, akan tetapi memberikan rambu-rambu yang lebih tegas terhadap kinerjanya dalam memimpin tim. Artinya harus ada koreksi-koreksi yang dibuat oleh menejemen, utamanya dalam hubungan psikologis antara seorang pelatih dengan para pemainnya.
Coach Iwan Setiawan harus mulai berhenti untuk "menguliti" para punggawanya sendiri di depan publik. Mengkritik pemain yang kebetulan tidak tampil maksimal secara terbuka di depan media, hanya akan menambah kusut permasalahan di dalam tim. Menyalahkan pemain saat tim tidak tampil baik dan mengalami kekalahan, jelas bukan hal yang bijaksana.
Budaya kita belum sampai ke tahap seperti itu, mereka lebih dapat menerima, jika kritik tersebut disampaikan secara "face to face". Menyalahkan pemain atau faktor-faktor lain di depan pers, akan mengakibatkan berkurangnya respect pemain kepada pelatih. Alangkah elegannya jika seorang pelatih berani mengatakan, apapun hasil dari pertandingan ini menjadi tanggung jawab saya.
Evaluasi adalah hal yang wajib dan harus dilakukan, akan tetapi jauh lebih bijaksana jika hal tersebut dilakukan secara intern di dalam tim, tanpa melibatkan pihak luar. Hal tersebut membuat setiap pemain akan merasa, bahwa akan selalu ada orang yang mendukung dan melindungi mereka, orang tersebut adalah pelatih mereka. Dengan demikian setiap pemain akan bermain dengan lepas, tanpa beban dan tanpa ada rasa takut salah. Sehingga mereka akan merasa nyaman dalam bermain dan dapat mengeluarkan seluruh kemampuan terbaiknya.
Dalam kondisi materi pemain yang "serba terbatas", seharusnya seorang pelatih berusaha semaksimal mungkin untuk membangun sebuah iklim emosional yang kondusif di dalam tim. Sebuah situasi yang akan membuat para pemain berusaha melakukan apapun untuk tim dan pelatih mereka. Dengan apa.? dengan kepercayaan. Beri setiap pemain kebebasan untuk berekspresi yang tentunya dilandasi dengan rasa tanggung jawab, niscaya kemampuan terbaik mereka akan keluar dengan sendirinya
Ketika seorang pelatih mampu memberikan sebuah atmosfer yang nyaman bagi setiap pemainnya, dengan sendirinya akan membuat para pemain tidak hanya bermain untuk tim dan para fans, akan tetapi juga untuk pelatih mereka yang sangat mereka hormati. Oleh karena itu mengganti pelatih bukanlah sebuah solusi yang tepat bagi Persija Jakarta, setidaknya untuk saat ini. Karena masih ada hal yang dapat dilakukan dengan pelatih yang sama. Musim lalu Coach Iwan Setiawan melakukan itu, dan terbukti berhasil.
Bahkan secara fair kita harus memberi apresiasi positif kepada Coach Iwan Setiawan. Mengapa? karena dia berani mengambil tantangan untuk membentuk tim Persija Jakarta, dengan segala keterbatasan yang dialami oleh klub. Lagipula dengan kerangka pemain seperti saat ini, tidak mudah bagi siapapun pelatih baru untuk meracik kekuatan tim.
Tim ini dibentuk dengan susah payah oleh Coach Iwan Setiawan, dan untuk saat ini dia lah pelatih yang paling mengerti potensi dari setiap pemain yang ada di dalam tim ini. Saya rasa dia layak mendapatkan kesempatan yang lebih untuk menjalankan tugasnya.
Sekali lagi, permasalahan Persija Jakarta itu terjadi saat ini. Sehingga bukan lagi saat yang tepat untuk untuk membahas mengenai apa yang telah terjadi, atau apa yang akan terjadi suatu saat nanti. Karena apa yang kita butuhkan saat ini, adalah jalan keluar yang cepat, tepat dan dapat kita lakukan untuk saat ini, betul-betul saat ini.
Lupakan apa yang terjadi di awal musim, karena meratapi hal tersebut jelas tidak menyelesaikan permasalahan. Lupakan juga keinginan untuk mendatangkan pemain baru, atau mengembalikan pemain-pemain lama, seperti Leo Saputra, Andrytani, Precious atau bahkan Bambang Pamungkas sekalipun. Karena hal itu juga mustahil untuk dilakukan pada saat ini.
Mengapa? karena penambahan pemain baru hanya dapat dilakukan di putaran kedua nanti. Pergantian pelatih memang mungkin untuk dilakukan, akan tetapi dengan kondisi keuangan klub yang tengah tidak sehat, rasanya juga bukanlah sebuah solusi yang tepat. Jangan memberikan jalan keluar yang sekiranya tidak dapat, atau kecil peluangnya untuk dilakukan saat ini.
Jika kita cermati bersama, kerangka utama tim ini sebenarnya tidak terlalu jauh berbeda dengan yang kita punya musim lalu. Disana masih ada Galih Sudaryono, Ismed Sofyan, Fabiano Beltrame, Ngurah Nanak, Amarzukih, Robertino, Johan Juansyah, Pedro Javier dan Rahmad Afandi yang nota bene adalah kekuatan utama musim sebelumnya. Disamping itu masih ada juga darah-darah muda seperti Lenxivio Adixi, Rudi Setiawan, Delton Stevano dan juga Fahreza Agamal.
Musim lalu pemain-pemain diatas tampil bagus dalam mengibarkan panji-panji Macan Kemayoran. Artinya mereka bisa dan pernah tampil bagus, sehingga juga berpotensi untuk kembali tambil bagus. Jika sekarang penampilan mereka cenderung tidak maksimal, maka pasti ada sesuatu yang telah terjadi. Hal tersebut yang harus kita pecahkan dan cari solusinya bersama-sama.
Kebutuhan mendesak Persija Jakarta bukanlah penambahan personil baru, baik pemain, pelatih atau menejemen. Akan tetapi lebih kepada, bagaimana cara mengembalikan kenyamanan setiap individu di dalam tim dalam bermain. Hal tersebut yang tidak terlihat pada tujuh pertandingan awal ini musim ini..
Menegakkan disiplin itu wajib, memberi para pemain kerangka bermain dengan rambu-rambu yang tegas juga perlu. Akan tetapi memberikan suasana nyaman baik di dalam tempat latihan, ruang ganti maupun lapangan pertandingan, menjadi hal yang jauh lebih penting dari sekedar tak-tik diatas papan strategi. Hal tersebut akan membuat mereka merasa bahwa klub ini adalah rumah mereka. Dan ketika setiap pemain merasa bahwa Persija Jakarta adalah rumah mereka, maka pemain-pemain tersebut akan melakukan apa saja untuk mempertahankan rumah mereka.
"Terkadang, makna dari sebuah kesuksesan adalah seberapa besar kita mampu menikmati apa yang kita kerjakan.. Bukan selamanya dari seberapa besar yang dapat kita hasilkan dari pekerjaan tersebut"..
Kembalikan Stadion Utama Gelora Bung Karno sebagai pekarangan mereka. Tempat dimana mereka bisa melakukan apapun yang mereka mau, tanpa harus melompati pagar rumah yang sudah dibuat. Lepaskan beban dari pundak mereka, beri kebebasan mereka untuk berekpresi, hadirkan kembali kenyamanan dalam setiap penampilan mereka. Jika itu semua dapat staf pelatih dan menejemen berikan, niscaya hasil maksimal akan kembali dapat dicapai.
Sebagai sebuah tim, saat ini Persija Jakarta bagaikan kepingan puzzle yang berserakan. Mari kita tata kembali kepingan-kepingan tersebut tahap demi tahap. Dengan kesabaran dan penuh rasa ihklas untuk mengoreksi diri, mari kita susun kepingan-kepingan tersebut ke tempat yang seharusnya. Jika Persija Jakarta mampu melewati masa-masa sulit ini secara bersama-sama sebagai sebuah tim, maka gambar yang indah itu akan kembali terlihat.
Persija Jakarta adalah salah satu dari dua tim, yang tidak pernah terun kasta dari kompetisi tertinggi di negeri ini. Kita semua tentu tidak menginginkan hal tersebut menimpa tim kebanggan kita. Secara pribadi dan dari lubuk hati yang paling dalam, saya masih memiliki keyakinan yang sangat besar, jika Persija Jakarta akan segera kembali ke trek yang seharusnya.
Ini baru awal kawan-kawan, apa yang terlihat di tabel klasemen sama sekali tidak mencerminkan apa yang akan terjadi di akhir musim nanti. Perjalanan masih sangatlah panjang, tetaplah pelihara semangat dan keyakinan itu di dalam sanubari kalian semua. Dan percayalah, bahwa kami disini tidak akan pernah meninggalkanmu.
Maka, Ayo #BangkitPersija ku...!!!
Selesai